Halselpos.com, Maluku Utara–Tidak ada kisah yang lebih mengguncang hati dari perjalanan seorang perempuan yang lahir dari duka, lalu menumbuhkan harapan bagi seluruh rakyatnya. Nama Sherly Tjoanda Laos kini menjadi cahaya baru bagi Maluku Utara. Namun, di balik setiap langkah yang ia tapakkan sebagai Gubernur, tersimpan luka yang dalam—luka yang pernah hampir merenggut hidupnya.
Masih terpatri kuat dalam ingatan warga Maluku Utara, Sabtu siang, 12 Oktober 2024, di pelabuhan kecil Desa Bobong, Taliabu Barat. Speedboat Bela 72 yang ditumpangi oleh Sherly dan suaminya, Benny Laos, tiba-tiba meledak hebat. Ledakan yang membelah langit siang itu bukan hanya memecah kapal, tetapi juga memecah hati jutaan warga Maluku Utara yang menyayangi mereka.
Benny Laos — calon gubernur yang penuh cita-cita besar untuk membangun negeri rempah — gugur dalam insiden itu. Sedangkan Sherly, berlumur luka bakar di kaki dan pinggul, berhasil diselamatkan dari reruntuhan kapal yang terbelah dua. Ia dibawa ke RSPAD Gatot Subroto, Jakarta, dengan tubuh yang lemah dan hati yang hancur.
“Luka bakar di kakinya cukup parah tapi ia masih hidup, dan itu keajaiban,” tutur Choel Mallarangeng, sahabat keluarga yang mendampingi sejak evakuasi dari Luwuk, Tak ada yang tahu saat itu, perempuan yang terbaring di ruang perawatan itu akan bangkit—bukan hanya untuk dirinya, tetapi untuk seluruh rakyat Maluku Utara.
Bangkit dari Abu, Meneruskan Mimpi Sang Suami, Setahun berselang, Sherly Tjoanda Laos berdiri tegak di Istana Negara. Dengan mata berkaca-kaca, ia mengucapkan sumpah jabatan di hadapan Presiden Prabowo Subianto, 20 Februari 2025, menjadi Gubernur Maluku Utara, didampingi Sarbin Sehe sebagai Wakil Gubernur.
Duka kehilangan tak lagi ia tangisi. Ia ubah menjadi janji dan pengabdian. “Semua ini untuk Maluku Utara lebih baik dan lebih maju untuk Benny,” katanya pelan, sesaat setelah pelantikannya.
Hari-hari awal pemerintahannya ia jalani bukan dengan kemewahan, tapi dengan keteguhan hati. Bersama wakilnya, ia mengikuti retreat di Akademi Militer Magelang—melatih mental dan fisik, seperti seorang prajurit yang bersiap untuk perang, perang melawan kemiskinan, ketertinggalan, dan kesedihan rakyatnya.
Seratus Hari, Seribu Perubahan, Hanya dalam waktu 100 hari kerja, Sherly Tjoanda menyalakan api perubahan yang nyata. Ia mencabut pungutan uang komite, mengembalikan 2.330 ijazah siswa yang tertahan, dan mengalokasikan Rp 34 miliar BOSDA untuk sekolah negeri dan swasta.
“Negara harus hadir ketika seorang anak nyaris putus sekolah,” ucapnya dengan suara bergetar di sidang paripurna DPRD Maluku Utara.
Ia tahu, membangun negeri bukan hanya tentang infrastruktur—tapi tentang harapan di mata anak kecil yang ingin tetap bersekolah, Tak berhenti di situ, dua rumah sakit di Bobong dan Maba ia bangun bersama Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin.
Ia ingin memastikan tak ada lagi rakyat Maluku Utara yang kehilangan nyawa karena jarak dan biaya.
“Dalam soal kesehatan, tak boleh ada waktu yang terbuang—karena nyawa bisa jadi taruhannya,” ucapnya lirih, mengenang masa di rumah sakit setahun lalu.

Cahaya untuk Mereka yang Pernah Gelap, Dari pendidikan, kesehatan, hingga kesejahteraan rakyat, langkah Sherly bagai suluh yang menembus kabut gelap masa lalu, Ia berikan beasiswa untuk mahasiswa, jaminan kecelakaan kerja bagi nelayan dan buruh, hingga uang saku Rp 1,076 miliar untuk jemaah haji — sebuah bentuk kasih sayang nyata dari seorang pemimpin yang pernah tahu rasanya kehilangan.
“Ini adalah cinta kami untuk rakyat,” katanya saat melepas jemaah haji, saat itu dengan mata yang berkaca namun tersenyum bahagia, Ia pun mengaktifkan kembali Pelabuhan Sofifi, memulai pembangunan Sekolah Rakyat, hingga membangun Kampung Nelayan Modern.
Di tiap langkahnya, Sherly selalu menyebut nama suaminya.
“Seratus hari memang singkat, tapi cukup untuk menyalakan obor perubahan,” ujarnya. “Dan api ini akan terus saya jaga, untuk rakyat Maluku Utara… dan untuk mimpi besar Benny Laos.”
Air Mata yang Kini Jadi Cahaya, setiap kali warga Maluku Utara menyebut nama Sherly Tjoanda Laos, mereka tak lagi menangis karena kehilangan — mereka menangis karena bangga.
Air mata yang dulu jatuh karena ledakan Bela 72, kini jatuh lagi — tapi kali ini karena bahagia melihat Maluku Utara kembali berdiri tegak, Dari api yang membakar kapal, lahirlah api semangat yang membakar jiwa rakyatnya.
Di ujung perjalanan yang penuh luka itu, Sherly Tjoanda berdiri tegak di atas panggung kehormatan rakyatnya—bukan sebagai istri almarhum gubernur, tetapi sebagai pemimpin sejati yang menyalakan kembali harapan Maluku Utara.
“Saya hanya ingin menuntaskan mimpi yang belum selesai,” katanya lembut.
“Dan kini, Maluku Utara telah menyalakan kembali obornya.” (Red)





