Soleman Alwan, Guru Pengabdi dari Anggai! Setengah Abad Hidup untuk Dunia Pendidikan

Halselpos.com, Labuha–Tidak semua orang mampu menapaki jalan panjang pengabdian dengan ketulusan seperti yang dilakukan oleh Soleman Alwan, sosok pendidik sederhana yang telah mendedikasikan hidupnya untuk mencerdaskan anak-anak di pelosok Maluku Utara.

Lahir dari pasangan Alwan Abdul Haya dan Hj. Jami Muhammad, Solemana menamatkan pendidikan di Sekolah Pendidikan Guru (SPG) Kota Ternate pada tahun 1978. Dua tahun kemudian, tepatnya 1980, ia diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan mulai menapaki karier sebagai guru di SD Inpres Anggai, Kecamatan Obi — sekolah sederhana yang menjadi saksi awal pengabdiannya.

Perjalanan hidupnya sebagai pendidik tak selalu mudah. Dari satu pulau ke pulau lain, dari ruang kelas yang berdinding papan hingga sekolah di tengah kampung nelayan, Solemana menjalani semuanya dengan sabar dan penuh cinta.
Tahun 1996, ia dipindahtugaskan ke SDN Inpres Maahi, Kecamatan Jailolo, lalu dua tahun kemudian, 1998, ditempatkan di SD Akr Laha, masih di wilayah Jailolo.

Dedikasinya yang tinggi membuatnya dipercaya menempati berbagai jabatan penting. Tahun 1990, ia ditugaskan ke SD Kelurahan Taduma, Kecamatan Pulau Ternate, dan dua tahun setelahnya, 1992, ia resmi dilantik menjadi Kepala Sekolah SD Inpres Jambulih.

Perjalanan pengabdiannya terus berlanjut. Tahun 1994, ia kembali dipindahkan ke SDN Inpres Kastela, Pulau Ternate, di mana kiprahnya sebagai pemimpin sekolah semakin diakui. Bersama sejumlah tokoh pendidikan seperti Anwar Towara dan Dahlan Habsi, ia turut berperan membentuk Yayasan Makugawene, yang kemudian melahirkan lembaga pendidikan seperti SMA Antara Tobolo-Sualamadaga, SMP Tamadehe, dan SMP Afetador — warisan besar bagi dunia pendidikan lokal.

Pada tahun 2006, Solemana dipercaya bertugas di Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Provinsi Maluku Utara sebagai staf. Namun, panggilan jiwanya sebagai pendidik tak pernah padam. Ia kemudian memohon untuk kembali ke dunia sekolah, dan pada 2010, ia kembali ke tempat awal pengabdiannya — SD Inpres Anggai.

Dua tahun kemudian, 2012, ia dipercaya kembali menjadi Kepala Sekolah SD Inpres Anggai, sekolah yang telah menjadi rumah keduanya selama puluhan tahun. Tak berhenti di sana, Solemana juga ikut membantu mendirikan SMA Nurul Hasan Sambiki, sebuah bukti nyata cintanya terhadap dunia pendidikan.

Setelah lebih dari tiga dekade mengabdi, Solemana akhirnya menutup masa baktinya pada tahun 2016, di usia 60 tahun — tepat di sekolah tempat ia pertama kali memulai perjalanan panjangnya.

Kini, nama Solemana Alwan menjadi bagian dari sejarah pendidikan Maluku Utara. Jejak langkahnya mungkin telah berhenti, namun semangatnya akan terus hidup di hati para murid, rekan sejawat, dan masyarakat yang merasakan sentuhan tangannya.

“Guru bukan hanya mengajar, tapi juga menyalakan cahaya di tempat yang gelap. Itulah yang dilakukan Solemana Alwan seumur hidupnya,” ucap pensiunan PNS Guru Suleman dengan mata berkaca-kaca.(Red)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *